You can also receive Free Email Updates:

Selasa, 16 Juli 2013
0 komentar

"Sesat" SANG JENDRAL TANI PRABOWO SUBIANTO

Selasa, Juli 16, 2013



Bangun semua pikiran rakyat Indonesia, “ayo bangun jangan gampang dikelabui oleh janji manis” calon presiden yang mulai tebar pesona, menarik simpatik dengan berbagai cara dan upaya. Lidah tidak bertulang, calon pemimpin hanya menjanjikan dengan melepaskan rangkaian kata-kata menjadi kalimat tanpa ikatan dan jaminan. Pembangunan issu meningkatkan populeritas memang sudah benar, janji sebagai jalan keluar adalah hanya penyesatan lebih mengarah pada tindakan elitis tanpa dapat menyelesaikan persoalan pokok. Penyelesai secara makro tidak akan pernah mendorong ekonomi mikro, padahal dalam realitas ekonomi saat krisis menderu hanya sektor mikro yang mampu bertahan dan mendorong bangkitnya kembali suasana peningkatan pergerakan ekonomi indonesia.
Janji manis “Sang Jendral Tani” Prabowo untuk memperbesar anggaran pertanian dari 1% menjadi 10% adalah janji menyesatkan, janji yang akan menjadikan tidak baik dan sulit untuk dipenuhi. Janji menyesatkan diatas coba uraikan dengan pikiran kita dari elemen bawah, uraiannya seperti ini:

1.      Kekuasaan (Authority)
Partai pendorong Sang Jendral adalah Partai Gerindra,  persentase yang memungkinkan Partai Gerindra mendapatkan kursi di parlemen 7%  s/d 10 % anggap saja maksimal rate 10% kursi. Jumlah tersebut tidak akan mempengaruhi secara signifikan permainan di parlemen, solusi alternatif dengan melakukan koalisi. Perkuat denganh bermimpi untuk memperkuat dengan Sang Jendral Tani jadi Pak Presiden.
Sekarang telah diperkuat dengan koalisi partai di parlemen dengan nama Fraksi Indonesia Raya dan Presiden. Kekuatan power full tersebut tidak akan mampu memdorong namanya anggaran pertaniaan menjadi 10% sekaligus, berkaca pada pengalaman mendorong anggaran pendidikan mesti jatuh bangun. Keterkaitan kenaikan anggaran pendidikan banyak yang di untungkan masih saja lambat. Kembali anggaran pertanian di dorong untuk menjadi 10% akan menghadapai banyak penghambat, tidak hanya dari parlemen tetapi masih ada lembaga lain diluar departemen pertanian yang akan merasa dipotong anggaran.
Power full parlemen tidak ada yang gratis semua mempunyai konsekuensi dalam pembagian kue kekuasaan, seperti sekarang terjadi pada pemerintahan SBY, pastinya para menteri akan dari partai koalisi. Mungkin berharap 100% kepada menteri koalisi? Jauh api dari panggangan jawabannya lihat kenyataan menteri koalisi SBY.
Pertumbuhan pendapatan negara sudah dapat diukur paling naik 2% s/d 3%, tapi kalau dari kondisi ekonomi masih seperti sekarang akan terjadi terjun bebas (baca posting Ekonomi Jatuh “Jual  Harga Diri”). Dengan anggaran yang sama besarannya apa mungkin melakukan pengalihan anggaran untuk petani? Paling memungkinkan terjadi pergesekan antar lemabaga, lahan baru pemain kartu As di badan anggaran parlemen. Disamping itu anggota parlemen yang bakal duduk dapat dipastikan adalah para petualang politik, yang berbasis pada kehidupan elitis dan pengusaha. Mereka yang duduk mewakili petani bukan orang-orang yang lahir dari bagian kelas bawah tani tapi para tuan tanah, tuan tani yang biasa mengeksploitasi keringat petani. Jadi tidak akan mungkin berpihak untuk petani, kebijakan yang akan didukung mendorong bagaimana perkebunan sawit, perkebunan karet dan/atau kebijakan memudahkan pengalih fungsi lahan pertanian seperti sawah untuk perkebunan dan tambang.  
Uraian singkat diatas memperjelas, maka pikiran kalangan bawah seperti kita sudah semestinya mampu menilai bahwa janji itu hanya manis di bibir, kata orang negeri seberang “Lips Service”.

2.      Perilaku (Behavior)
      Kebiasaan yang terjadi pada pemimpin lembaga di negara ini sangat tidak mungkin dapat dipercaya, hanya para pesulap, (baca posting “Porno Aksi PKS”). Memang tidak semua tapi mayoritas terjadi di lembaga pemerintahan. Pembesaran anggaran menjadi ladang sulap menyulap, apalagi departemen pertanian sekarang perkembangannya di media cetak dan elektronik sangat memperihatinkan.
Sang Jendral Tani tidak mungkin mengerjakan sendiri pelaksanaan anggaran 10% untuk pertanian. Dia akan berhadapan dengan para pesulap yang biasa mengutak-atik angka-angka laporan, sulap menyulap di lingkungan itu sudah menjadi kebiasaan. Itu baru soal angka laporan disulap, dalam pelaksanaan lebih parah seperti bantuan bibit untuk petani. Bibit terbaik dijanjikan ternyata bibit abal-abal, bibit yang malah menjadikan petani gagal memetik hasil, menjadikan petani sia-sia tenaga, waktu dan modal keuangannya, tindakan paling nista merugikan harapan petani kecil. Cukup sudah Sang Jendral Tani main-main janji “Anda akan mendzolimi nasib petani kecil”, Itikad baik Sang Jendral Tani sudah benar tapi pelaksanaan akan menjadikan derita baru bagi petani kecil, “sadarlah, cari solusi issu yang baik saja...! kami tahu itikad baik anda”.

Petunjuk terbaik yang bisa disampaikan sebagai solusi untuk issu Sang Jendral Tani adalah belajar pada negeri tetangga Vietnam yang dulu pernah juga belajar ke negeri kita tentang pertanian kopi. Tidak ada salahnya belajar pada murid, tidak juga menjadi pos anggaran baru parlemen untuk jalan-jalan ke vietnam. Sebaiknya Sang Jendral Tani jika ingin penuhi keinginan di parlemen 20% harus lebih aktif. Issu populis namun tidak populis.

By. Tan Airdikit

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer
Top