You can also receive Free Email Updates:

Sabtu, 20 Juli 2013
0 komentar

Quraish Shihab

Sabtu, Juli 20, 2013
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA lahir di Rappang Sulawesi Selatan, pada 16 Pebruari 1944. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Ujungpandang, kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul-Hadis al-Faqihiyyah. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Abdurrahman Syihab (1905-1986) adalah lulusan Jami’atul Khair Jakarta, sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang mengendapankan gagasan Islam modern. Ayahnya ini, selain guru besar dalam bidang tafsir, juga pernah menduduki jabatan Rektor IAIN Alauddin dan tercatat sebagai salah seorang pendiri Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Ujungpandang.

Sejak kecil, M. Quraish Shihab telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Quran. Pada umur 6-7 tahun, oleh ayahnya ia harus mengikuti pengajian al-Quran yang diadakan ayahnya sendiri. Pada waktu itu, selain menyuruh membaca al-Quran, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Quran. Di sinilah M. Quraish Shihab, benih-benih kecintaannya kepada al-Quran mulai tumbuh. Pada tahun 1958, ia berangkat ke Kairo, Mesir, atas bantuan beasiswa dari Pemerintah Daerah Sulawesi (waktu itu wilayah Sulawesi belum dibagi: Sulawesi Utara dan Selatan). Ia diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, ia meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis Universitas al-Azhar. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dan pada tahun 1969 ia meraih gelar MA untuk sepesialisasi bidang Tafsir al-Quran dengan judul tesis al-I’jāz al-Tasyrī’iy li al-Qur’ān al-Karīm. Sekembalinya ke Ujungpandang, M. Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin Ujungpandang. Selain itu, ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus, seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), maupun di luar kampus, seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujungpandang ini, ia sempat melakukan pelbagai penelitian, antara lain: penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf di Sulawesi Selatan” (1978).

Pada tahun 1980, M. Quraish Shihab kembali ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas al-Azhar. Pada tahun 1982, dengan dissertasi berjudul Nizm al-Durar li al-Biqā’iy, Tahqīq wa Dirāsah, ia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Alquran dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtāz ma’a martabāt al-syaraf al-awlā). Ia menjadi orang pertama di Asia Tenggara yang meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Alquran di Universitas al-Azhar.
Sekembalinya di Indonesia, sejak tahun 1984, M. Quraish Shihab ditugas-kan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, ia juga dipercaya untuk menduduki pelbagai jabatan, antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), Anggota Lajnah Pentashih al-Quran Departemen Agama (sejak 1989). Ia juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indenesia (ICMI), serta pernah menjabat Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII tahun 1998, sebelum Soeharto tumbang pada 21 Mei 1998 oleh gerakan reformasi yang diusung oleh para mahasiswa.

Di sela-sela berbagai kesibukannya, ia masih sempat terlibat dalam pelbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun di luar negeri, dan aktif dalam kegiatan tulis menulis. Beberapa buku yang telah dihasilkannya ialah; Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1984), Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama: Untagma, 1988), Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehdiupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1992), Lintera Hati Kisah dan Hikmah Ke-hidupan (Bandung: Mizan, 1994), Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), Hidangan Ilahi Ayat-ayat Tahlil (Jakarta: Lentera Hati, 1997), Yang Tersembunyi (Jakarta: Lentera Hati, 1999), Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2000) dan beberapa buku yang lain. Yang tidak kalah pentingnya, M. Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis menulis di Surat Kabar Pelita, pada setiap hari Rabu. Dia menulis dalam rublik “Pelita Hati”. Dia juga mengasuh rubrik “Tafsir al-Amanah”. Selain itu, di ajuga tercatat sebagai redaksi Majalah “Ulumul Qur’an” dan “Mimbar Ulama”, keduanya terbit di Jakarta. 

Editor : Tan Airdikit 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer
Top